SMPK FRATERAN NDAO

Layanan Online

Sejarah Singkat SMPK Frateran Ndao

TAHUN 1948

Lahirnya SMPK Frateran Ndao tidak terlepas dari sejarah berdirinya komunitas Frateran St. Aloysius Ndao-Ende. Kehadiran  komunitas ini awal mulanya di prakarsai oleh Pater Cornelissen, SVD yang merupakan inspektur persekolahan misi di Flores. Dengan melihat kondisi di Ende dan mengetahui latar belakang Para Frater, maka Pater Cornelissen menyurati Frater Superior Athanasius, BHK untuk mencoba menjawab tantangan ini. Sebagai tanggapan atas permintaan tersebut dan meskipun dalam keraguan akhirnya Frater Superior Athanasius mengutus salah satu anggota dewan pusat yang diwakili oleh Frater Monfoort, BHK yang pada waktu itu sementara menjabat sebagai overste di komunitas Frateran St. Andreas Palembang datang ke Ndao-Ende dan  beberapa tempat yang ada di Flores  antara lain Toda Belu di Mataloko (sekarang seminari Mataloko), Ruteng di Manggarai dan juga Podor di Larantuka ujung timur pulau Flores. Setelah melalui rapat penjajakan dan pertimbangan yang matang, maka Ndao Ende akhirnya menjadi pilihan, tempat untuk berkarya para frater BHK, tepatnya tanggal 26 Juni 1948.

Dua bulan kemudian, pada tanggal 1 Agustus 1948, SMP Frateran Ndao Ende di buka dan diresmikan tanggal 19 Agustus 1948. Dengan demikian, tanggal 19 Agustus 1948 dijadikan sebagai hari jadi SMPK Frateran Ndao Ende, dengan kepala sekolahnya dipimpin oleh Pater Cornelis Vermolen, SVD, sebab frater Kapala Sekolah belum tiba. Sedangkan urusan asrama ditangani sendiri oleh Pater Van Velzen, SVD. Asrama ini dihuni oleh dua kelompok siswa Algemene Lagere School (ALS) yang bersekolah di Ende (sekarang: SD Ende 4) dan siswa SMP yang bersekolah di Ndao. Pada bulan November 1948, tibalah Frater Theodardus Klarenbeek yang langsung bertindak sebagai kepala SMP Frater dan sekaligus menjadi Overste di Komunitas Ndao, sedangkan Pater Cornelis Vermolen, SVD tetap memimpin ALS.

TAHUN 1949

Pada bulan Januari 1949 Frater Andre tiba. Pater Cornelisen menginginkan agar sekolah normal (SGB) harus tetap berjalan dan Frater Andre juga mengajar disana. Kemudian menuyusul Frater Donatus. Akan tetapi terjadi perselisihan antara para frater dan Pater Rosmalen SVD. Para frater menginginkan agar sekolah ini dipindahkan ke Ndona, sebaliknya Pater Rosmalen ingin memindahkannya ke Ruteng. Akhirnya para siswa yang berasal dari Manggarai pindah ke Ruteng bersama Pater Rosmalen, SVD dan siswa yang berpindah ke SGB Ndona. Bulan Mei 1949 tibalah Frater Tarcisio di Ndao. Beliau menggantikan Pater Van Velzen, SVD untuk mengurus asrama, sedangkan Pater Van Velzen cuti ke negeri Belanda dan Pater C. Vermolen, SVD hanya mengurus anak-anak ALS lalu dipindahkan ke Seminari Hokeng

TAHUN 2000 – 2008

Pada Tahun Pelajaran 2000/2001 SMPK Frateran Ndao menerapkan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan melaksanakan lima hari kerja yaitu Senin sampai dengan Jum’at, sedangkan hari Sabtu diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler untuk meningkatkan keterampilan peserta didik sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Tahun 2004 kurikulum mengalami perubahan dari sistem kurikulum yang berorientasi pada materi ke kurikulum yang berorientasi pada kemampuan atau kompetensi peserta didik yang di kenal dengan nama KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan kurikulum ini hanya merupakan uji coba, sehingga pada Tahun Pelajaran 2006/2007 diganti dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dan SMPK Frateran Ndao melaksanakannya pada Tahun Pelajaran 2007/2008

Tahun 2012 – 2014

Tahun Pelajaran 2013/2014 SMPK Frateran Ndao menerapkan Kurikulum 2013 dan merupakan satu-satunya sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 di Kabupaten Ende. Penerapan Kurikulum ini juga sesuai dengan program pemerintah pusat melalui Dinas Pendidikan dan kebudayaan.

Tahun 2015 – 2017

Tahun Pelajaran 2015/2016 lembaga pendidikan ini menerima kepercayaan sebagai induk cluster pelaksanaan kurikulum 2013 dan mengimbaskan satu sekolah wilayah kabupaten Ende ini. Tahun 2016/2017 SMPK Frateran Ndao menerima SK dari LPMP Provinsi NTT sebagai salah satu sekolah model di kabupaten Ende setelah dilakukan verivikasi dan validasi pdi sekolah.  Mulai saat itu sampai dengan sekarang masih berlangsung. Pelaksanaan sekolah model lebih berfokus pada penerapan delapan standar nasional pendidikan sebagai tolok ukur pelaksanaannya. Pelaksanaan progam ini juga sesuai dengan program pemerintah pusat melalui Dinas Pendidikan dan kebudayaan.

Close Menu